Pages - Menu

Halaman di Situs Ini

Rabu, 21 Mei 2025

Chapter 146 - Malam Penuh Cinta (2)


Suara daging beradu daging bergema di dapur.


Plap. Thud. Plap. Plap. Thud.


Kadang keras, kadang lemah.


Sebuah aliran cairan putih murni menetes dari ujung penis panas di antara tanganku yang bergerak sesuai ritme.


“Gimana? Rasanya enak?”


“Mmm, mmm...”


“Haaa, serahkan semuanya padaku...”


Siwoo terlihat bahagia.


Entah kenapa, aku merasa sangat bangga melihatnya bahagia.


Namun, tidak sebasah yang kubayangkan.


Dia sepertinya menikmati ini, tapi...


Pasti akan jauh lebih kacau jika ini adegan di buku atau novel porno.


Kurasa ini tidak berhasil.


Hanya ada satu cara: air liur.


Aku bertanya-tanya apakah aku harus melakukannya.


Mmm... Baiklah, aku sudah memutuskan.


Semua cowok pasti akan suka ini.


Hanya sedikit…


… Lebih banyak dari yang kubayangkan, tapi...


Selama Siwoo suka, aku akan melakukannya.


Kalau dia milikku, tentu saja aku miliknya.


“Pelan, pelan...”


“Ah, Arte, apa yang kamu...”


“...Rasanya aneh sekali.”


Meski begitu, langsung mencobanya benar-benar mengejutkanku, jadi aku mencoba untuk memulainya pelan-pelan, dan Siwoo sepertinya menyadari perubahan sensasi itu.


Jujur, rasanya aneh sekali, tapi saat aku menyadari benda itu adalah milik Siwoo, lebih mudah bagiku untuk menerimanya.


“Arte, tunggu dulu, tunggu... Hmph...?!”


“Ya, chup. Hmph... Hehe, chup...”


Aku memasukkan penis Siwoo ke dalam mulutku dan mengisapnya dengan berlebihan, sengaja mencoba membuatnya mengeluarkan suara yang bagus.


Ini adalah kali pertama aku mengisap sesuatu seperti ini, jadi aku tidak yakin bagaimana perasaan Siwoo.


Aku pernah dengar kalau menghisapnya terlalu kaku, lmending tidak usah melakukannya sama sekali.


Aku memasukkan penis Siwoo ke dalam mulutku dan mengisapnya dengan keras, mengingat pengalaman mengisap es krim.


Aku mengulumnya dengan lidahku dan sesekali mengisapnya dengan cepat.


Penasaran ingin tahu dengan ekspresi Siwoo, aku melirik ke atas untuk melihat reaksinya.


“Ugh, Arte... Ugh...!”


Oh, penisnya jadi terasa sedikit membesar. Aku bisa tahu karena aku mengulumnya di mulutku.


Dia pasti sangat terangsang oleh tindakanku yang mengisap penisnya seraya melihat reaksinya.


Aku tersenyum bahagia, tahu bahwa Siwoo menyukainya, meskipun aku sedikit kaku.


Aku terus mengulum penisnya, sembari mengukur reaksinya.


Tepat saat rahangku mulai sakit, Siwoo berbicara padaku.


“Ah, Arte... Aku pikir aku akan ejakulasi...! Berhenti, berhentilah Arte...!”


Pinggang Siwoo yang terlihat sedikit tegang, dan aku bisa melihat pahanya menegang.


Dia akan ejakulasi.


Aku cepat-cepat memasukkan lengan ke celah kecil antara pinggangnya dan lantai, yang sedikit terangkat saat dia menggerakkan pinggulnya.


“Ah, Arte?! Apa-apaan ini...! Huh?! Hei, kamu!”


“Ugh...!”


Segera, aku memeluk pinggang Siwoo begitu erat hingga aku merasa pinggangnya hampir patah, dan menggerakkan mulutku maju-mundur dengan paksa.


Penisnya begitu dalam di tenggorokanku hingga instingku menyuruhku untuk menariknya keluar sesegera mungkin.


Tidak mampu menahan ejakulasinya melawan ketatnya tenggorokanku yang rileks dan berkontraksi dengan kuat, Siwoo mulai menyemburkan cairan putih kentalnya ke dalam mulutku.


Setelah beberapa saat, aku menyadari bahwa aku tidak bisa melanjutkannya, jadi aku melepaskan cengkeramanku.


“Kwak, kwak… Mmph, hmmm!”


Air mata menggenang di pelupuk mataku.


Apakah itu karena oksigen yang nyaris tidak masuk ke tenggorokanku? Sejenak, aku sibuk menghirup oksigen seperti pelari di garis finis lari maraton.


“Ah, Arte... Apa kau baik-baik saja?!”


“Whoa, uhuk...”


Mulutku terasa licin.


Sebagian besar sperma Siwoo yang lengket menetes ke lantai atau perutku, tapi cukup banyak yang tersisa hingga memenuhi rongga mulutku.


Pemeran utama harem.


Begitu perkasanya dia.


“Ahnn...”


“Ah, Arte...?”


Aku membuka mulutku untuk memberi Siwoo pandangan yang jelas pada sperma yang memenuhi mulutku.


Ugh, lengket.


Aku agak ragu untuk menelannya, tapi...


Glek.


Aku menelannya, merasakan gumpalan lengket itu bergerak turun ke tenggorokanku.


“?!”


“Hah, hah... Bagaimana, Siwoo? Rasanya, enak...?”


Dengan setiap tarikan napas, aku bisa mencium aroma sperma Siwoo.


Rasanya seolah-olah tubuhku diselimuti olehnya.


“...Aku pikir kamu gak perlu ngasih tau... Tubuhmu sangat jujur.”


Dia pasti sangat terangsang karena aku menelan spermanya.


Meskipun baru saja ejakulasi, penis Siwoo sudah mengeras lagi.


Campuran keringat Siwoo, sperma, dan air liurku akan berfungsi sebagai pelumas seperti yang seharusnya.


Aku bertanya-tanya apakah boleh kumulai lagi dengan perlahan?


Melihat Siwoo terbaring di lantai, aku memasukkan schisandra yang ada di meja ke dalam mulutku.


Cairan itu tidak terasa seburuk yang kubayangkan, jadi aku pikir tidak apa-apa untuk tetap seperti ini, tapi...


Tapi aku... Aku benar-benar ingin menciumnya.


Aku tidak keberatan menciumnya seperti ini, tapi Siwoo tidak akan mau.


Dia tidak mau mencium mulut yang penuh dengan spermanya sendiri.


Aku sikat mulutku sampai bersih dengan schisandra dan raspberry hitam, aku naik ke atas Siwoo dan menciumnya.


Kutempelkan dadaku pada dadanya, agar dia bisa merasakan tubuhku sebaik mungkin.


“Mmm, Chuup...”


Aku bisa merasakan tatapan Siwoo di dadaku.


Apakah dia ingin melihat kulitku yang telanjang?


Karena Siwoo sepertinya ingin melihatnya, aku menggunakan kemampuanku untuk melepas bagian atas leotardku secara instan.


“Fuha... Aku pikir kamu impoten, tapi aku senang melihat kamu masih normal.”


“Kamu, kamu... Itu yang kamu pikirkan?”


“Pastinya aku tahu kamu nggak begitu, tapi aku sudah mencoba menggoda kamu berkali-kali, dan kamu tidak terpancing, jadi aku khawatir.”


“Aku hanya...!”


Aku melihat penis Siwoo yang telah kembali tegang setelah cairan pra-ejakulasi.


Ya, sepertinya dia sudah siap.


Aku menarik leotard di selangkanganku, lalu membuka vaginaku sedikit agar Siwoo bisa melihatnya.


“Lihat? Sekarang, penismu akan masuk ke sini.”


Tempat yang belum pernah dijamah oleh siapa pun, bahkan olehku sendiri.


Aku menunjukkan buktinya, lalu tidak membuang waktu untuk naik ke atas penisnya.


“Ha, ha, ha...”


“Arte... kamu baik-baik saja?”


“Gee, aku baik-baik saja...”


Dia perlahan menundukkan kepalanya dan melihat bagian bawah tubuhku, ke arah mulut bawahku.


Akhirnya aku memberikan keperawananku kepada Siwoo, kini, aku dan dia terhubung menjadi satu berdasarkan perasaan saling cinta,


Vaginaku, bercucuran darah, membasahi batang penisnya.


“Hoo, hoo... Cium aku, cium aku...”


Aku mencium Siwoo untuk menenggelamkan rasa sakit.


Berkat dia menutup matanya tanpa berkata apa-apa, kami berciuman dengan penis masih tertanam di dalam lubang senggamaku dan terdiam untuk beberapa saat.


“...Baik, sudah cukup.”


Ketika rasa sakit dari selaput dara yang pecah mereda, aku menghentikan ciuman dan menatap tubuhnya dari atas ke bawah.


Masih terasa sakit sedikit, tapi masih bisa ditahan daripada yang kubayangkan.


Mungkin darah dari robekan selaput dara telah melembabkan bagian dalam, membuatnya lebih mudah bergerak daripada saat pertama.


Menarik.


Apakah karena aku sangat kuat? Atau karena ini tubuh wanita?


Ajaibnya, benda sebesar itu menembus tubuhku, dan tidak terlalu sakit.


“Hari ini... Tolong manjakan aku, perlakukan aku sesukamu.”


Aku meletakkan tanganku di perut Siwoo.


Aku mengusap jari-jariku di atas otot perutnya yang kencang, merasa ada sesuatu yang aneh dari rasanya, dan tertawa kecil saat dia sedikit menggelinjang seolah digelitik.


Tapi itu pun hanya sebentar.


Aku mulai perlahan-lahan mengayunkan pinggulku di atas tubuh Siwoo.


“Mmmm, Arte... Arte...!”


“Ya, aku di sini… Kekasihmu ada di sini.”


Sekali lagi, suara daging beradu terdengar di ruang tamu.


Namun kali ini, suaranya sedikit berbeda.


Lengket, basah.


Suara yang akan membuat siapa pun malu jika mendengarnya.


Suara erangan khas seorang pria dan wanita yang saling bergesekan terdengar di ruang tamu dan menyebar ke seluruh rumah.


“Ha, ha, ha, ugh...”


Dalam kehidupan sebelumnya maupun saat ini, aku belum pernah berhubungan seks sebelumnya.


Oleh karena itu, aku khawatir Siwoo tidak bisa merasakannya dengan benar, tapi...


Entah bagaimana, aku merasa lebih percaya diri saat melihat tatapannya beralih ke dadaku, yang terus bergoyang saat ia berusaha menahan desahannya.


Merasa lebih nyaman, aku mencoba hal-hal berbeda daripada hanya menggerakkan tubuhku naik turun.


Aku memutar pinggulku sedikit atau menggoyangkan pinggulku dengan gerakan seperti mengulek sambal saat menciumnya.


Setiap kali aku bergerak, reaksi Siwoo berbeda, dan itu menarik.


Pacar hebatku, yang selalu bisa kandalkan dalam pertarungan, yang kadang-kadang kejam,


Tapi selalu memikirkanku.


Aku senang aku bisa melihatnya mengeluarkan ekspresi seperti itu dalam setiap gerakanku.


Aku menyukai bahwa kami terhubung menjadi satu.


Secara bertahap, intensitas dan kecepatan pinggulku mulai meningkat.


Setelah beberapa saat bergoyang pinggul, sambil melihat wajah Siwoo, dia berbicara padaku dengan mendesak.


“Arte, tolong berhentilah dan turun dariku!”


“Apa? Kenapa?”


“Kamu harusnya tahu kenapa!”


Ya, aku tahu. Aku tahu.


Penis Siwoo semakin membesar di dalamku, sedikit demi sedikit.


Dia pasti sudah ingin ejakulasi.


Aku yakin dia ingin aku menarik penisnya dari vaginaku, karena dia pikir aku mungkin akan hamil jika ejakulasi di dalam.


Tapi aku tidak mendengarkannya dan terus mengayunkan pinggulku, bergerak bahkan lebih cepat.


“Ahh, Arte, ini benar-benar berbahaya!”


“Tidak apa-apa, aku belum pernah menstruasi.”


“Apa, apa...?!”


Seperti yang aku katakan. Aku belum pernah menstruasi.


Aku tidak tahu kenapa. Mungkin Author membuatnya begitu.


Jadi, aku tidak perlu khawatir tentang kontrasepsi atau apapun.


Aku tidak berpikir apa yang Siwoo khawatirkan akan terjadi.


Aku memang ingin memiliki anak dari Siwoo, tapi...


Aku memutuskan untuk memikirkannya nanti.


Untuk saat ini, aku ingin menikmati momen ini.


“Dan kalau itu anak Siwoo... aku tidak masalah jika aku hamil?”


“Uggggh… Aku, aku mau keluar!”


Segera setelah aku mengatakannya.


Tidak bisa menahan diri lagi, sperma Siwoo mulai masuk ke rahimku.



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar