Pages - Menu

Halaman di Situs Ini

Kamis, 22 Mei 2025

Chapter 147 - Malam Penuh Cinta (3)



 “Kamu hangat...”

Aku menenggelamkan wajahku di dada Siwoo dan tersenyum bahagia.

Rasanya memuaskan.

Siwoo juga merasa kenikmatan setelah dirinya ejakulasi dua kali.

Bahagia karena telah bercinta dengannya, aku memeluknya dalam posisi itu untuk beberapa saat.

“Rasanya nikmat?”

“...Ya, mantap.”

“Aku senang.”

Aku puas karena Siwoo bahagia.

Aku merasa telah melakukan sesuatu yang benar.

...Yah, sebenarnya, itu tidak berarti apa-apa selain diakui karena tidak ada cara untuk menunjukkan hal itu kepada siapa pun selain Siwoo.

Saat kami tertawa, Siwoo tiba-tiba bertanya padaku.

“Bagaimana denganmu?”

“Apa?”

“Arte, apakah kamu merasa keenakan?”

“Ya, itu nikmat banget.”

“Kamu berbohong.”

“...?”

Aku penasaran apa yang dia bicarakan.

Bukan seperti aku berbohong.

Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaan puas dan bahagia ini selain mengatakan bahwa rasanya nikmat.

Saat aku mengutarakan keraguanku, tidak tahu apa yang dia bicarakan, Siwoo berbicara padaku.

“Kamu tahu, Arte. Aku sudah berusaha sangat keras untuk menahan nafsuku padamu.”

“... Kamu menahan diri?”

“Iya. Sangat, bahkan sebelum kita bersama.”

Aku penasaran apakah dia sedang memikirkan masa lalu.

Siwoo menarikku ke dalam pelukannya....

Tunggu, dia memelukku?

Aku mengikat tangannya dan kakinya dengan benang.

Aku cepat-cepat melihat tempat di mana lengan Siwoo, tapi hanya ada bekas benang seolah-olah telah ditarik paksa.

“Uh, uh...? Kapan...?! Kapan itu terlepas...!”

“Sejak kita mulai tinggal bersama, kamu tidak tahu betapa sulitnya bagiku untuk menghadapi kelemahanmu.”

“Hei, apa yang kamu bicarakan...!”

Terkejut, aku menggeliat mencoba melepaskan diri dari pelukan Siwoo, tapi tak ada gunanya.

Siwoo memelukku erat dan berkata.

“Kamu memakai baju putih dan tidak pakai pakaian dalam... Kamu memeluk bajuku dan tertawa histeris...”

“Wh, kenapa kamu mempermalukanku dengan mengatakan itu tiba-tiba?! Tidak, lebih dari itu, tolong... lepaskan...!”

“Aku menahannya begitu lama karena ingin menjagamu.”

Siwoo, yang sudah lepas dari benang, memelukku erat-erat sehingga aku tidak bisa melarikan diri.

Tidak, rasanya enak! Rasanya enak dipeluk begitu erat!

“Aku menahan diriku sampai aku ejakulasi di dalammu... Aku pikir mungkin akan terasa sulit jika kamu hamil sekarang...”

“Uh, tunggu sebentar… Kau tidak dengar aku... hei, Siwoo…?”

“Lihat seberapa lama aku menahannya...!”

Ah.

Dia tidak mendengarku.

Aku menatap wajah Siwoo, dan matanya sedikit rileks.

“Ketika aku mendengar itu, aku tidak bisa menahannya lagi...!”

“A-Apa sebaiknya kita tidur...?!”

Fwu.

Aku pikir aku mendengar suara itu.

Merasa sensasi tiba-tiba, aku menundukkan kepala dan melihat tempat yang terhubung dengan Siwoo.

Apakah dia benar-benar menahan diri sejauh itu...?

Itu tidak mungkin...

Penisnya baru saja ejakulasi di perutku beberapa saat yang lalu...?

Itu aneh.

Kenapa rasanya penisnya menusuk lebih dalam dari sebelumnya?

Saat aku bingung dengan sensasi asing yang kupikir sudah kuterbiasa, tangan Siwoo bergerak ke pantatku.

“...Well, tidak ada jaminan punggungmu tidak akan sakit jika kita melakukannya di tempat tidur, tapi kurasa ini lebih aman.”

“Tidak, Jangan pakai kemampuan super! Jangan gunakan itu!”

“Tidak, kok.”

Siwoo membuatku berguling ke perut seperti anjing kecil, lalu memberi senyuman nakal yang kadang-kadang dia tunjukkan.

…Ini bukan main-main. Aku tahu apa yang akan terjadi.

“Arte begitu imut, aku tidak bisa menahan diri untuk menggunakan kekuatanku.”

“Apa-apaan itu!”

“Ya, ya.”

Seolah-olah dia tidak bisa menahannya lagi, Siwoo mulai meraba pantatku.

Aku harus akui, aku lega.

Dia sepertinya tidak ingin menyiksaku, dan dia tidak membuatku mencapai klimaks seketika seperti yang dia lakukan sebelumnya.

Aku penasaran apakah dia ingin menikmati waktu perlahan-lahan.

Plop. Plop. Plop.

Suara becek yang jorok dari vaginaku bercampur dengan cairan yang sudah meluap dan sperma Siwoo bergema sekali lagi.

“Ahn~ Berhenti… Ini berlebihan!”

“Apakah itu hal yang buruk?”

Ketika aku mengeluh bahwa Siwoo terlalu baik, dia balik bertanya padaku.

“Tapi kalau itu Siwoo, aku ngga apa-apa...”

“...!”

Aku malu karena telah mengatakan hal yang memalukan, dan Siwoo tiba-tiba mulai menggerakkan pinggulnya dengan liar.

“Sial, sial...! Arte, tubuhmu terlalu erotis...!”

“Ha, ha, ha, ha, ha, ah...!”

Aku tidak bisa menanggapi kata-kata Siwoo; aku terlalu sibuk mengeluarkan erangan.

Kami saling menginginkan tubuh satu sama lain seperti itu untuk sementara waktu.

Aku menjelajahi tubuhnya, dan dia menggali tubuhku.

Kami terus bercampur aduk seolah-olah untuk memastikan cinta kami satu sama lain.

Otakku berputar-putar karena kenikmatan, dan aku tidak bisa memikirkan apa pun selain Siwoo.

Aku mendesah pelan pada Siwoo, yang tampaknya terangsang oleh pemandangan pantatku, memegangnya dan sesekali menepuknya.

“Siwoo, aku tidak suka posisi ini...”

“Itu...? Maaf, kamu malu, kan?”

“Bukan, bukan itu...”

Jujur saja, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku malu.

Tapi jika Siwoo suka doffy-style, aku bisa mentolerir rasa malu ini dengan mudah.

Selain itu, ada alasan lain kenapa aku tidak suka posisi ini...

Bolehkah aku mengatakan ini?

Jujur, aku sedikit malu untuk mengatakannya secara langsung.

Lagipula, aku sedikit takut dengan konsekuensinya.

...Tapi aku tidak bisa menahannya.

Meskipun aku tahu dia akan berhenti segera jika aku menolak.

Aku bicara dengan suara pelan dan merangkak.

“Aku tidak bisa melihat wajah Siwoo dalam posisi ini, jadi...”

“...!”

Aku merasa ada yang berubah.

Aku bisa merasakan dia terangsang oleh kata-kataku.

Dalam sekejap, dia memelukku dan membalikkan tubuhku sehingga wajahku menghadap ke atas.

Aku melingkarkan tanganku di leher Siwoo dan menempelkan bibirku ke bibirnya sekali lagi.

Aku melakukannya karena cowok pasti menyukainya.

Tapi selain itu,

Aku tidak suka karena aku tidak bisa melihat wajah Siwoo.

Jadi, aku tidak suka posisi itu.

Aku ingin berhadapan dengan Siwoo, bibir kita bersentuhan seperti ini.

Menatap matanya dan melihat ekspresinya padaku terasa jauh lebih baik.

“...”

Siwoo begitu menggemaskan. Aku tidak bisa menahannya.

Jadi, aku menggunakan kemampuanku untuk menghilangkan bagian leotard yang masih tersisa.

“Arte, ini...”

“Hehe, bukan benang merah takdir, tapi... benang hitam takdir.”

“Ya, itu romantis.”

Setelah itu, aku dan Siwoo tidak bicara untuk sementara waktu.

Kami terlalu sibuk tergila-gila pada tubuh satu sama lain dan berciuman berulang kali.

Malam yang panjang dan panjang baru saja dimulai.


Rabu, 21 Mei 2025

Chapter 146 - Malam Penuh Cinta (2)


Suara daging beradu daging bergema di dapur.


Plap. Thud. Plap. Plap. Thud.


Kadang keras, kadang lemah.


Sebuah aliran cairan putih murni menetes dari ujung penis panas di antara tanganku yang bergerak sesuai ritme.


“Gimana? Rasanya enak?”


“Mmm, mmm...”


“Haaa, serahkan semuanya padaku...”


Siwoo terlihat bahagia.


Entah kenapa, aku merasa sangat bangga melihatnya bahagia.


Namun, tidak sebasah yang kubayangkan.


Dia sepertinya menikmati ini, tapi...


Pasti akan jauh lebih kacau jika ini adegan di buku atau novel porno.


Kurasa ini tidak berhasil.


Hanya ada satu cara: air liur.


Aku bertanya-tanya apakah aku harus melakukannya.


Mmm... Baiklah, aku sudah memutuskan.


Semua cowok pasti akan suka ini.


Hanya sedikit…


… Lebih banyak dari yang kubayangkan, tapi...


Selama Siwoo suka, aku akan melakukannya.


Kalau dia milikku, tentu saja aku miliknya.


“Pelan, pelan...”


“Ah, Arte, apa yang kamu...”


“...Rasanya aneh sekali.”


Meski begitu, langsung mencobanya benar-benar mengejutkanku, jadi aku mencoba untuk memulainya pelan-pelan, dan Siwoo sepertinya menyadari perubahan sensasi itu.


Jujur, rasanya aneh sekali, tapi saat aku menyadari benda itu adalah milik Siwoo, lebih mudah bagiku untuk menerimanya.


“Arte, tunggu dulu, tunggu... Hmph...?!”


“Ya, chup. Hmph... Hehe, chup...”


Aku memasukkan penis Siwoo ke dalam mulutku dan mengisapnya dengan berlebihan, sengaja mencoba membuatnya mengeluarkan suara yang bagus.


Ini adalah kali pertama aku mengisap sesuatu seperti ini, jadi aku tidak yakin bagaimana perasaan Siwoo.


Aku pernah dengar kalau menghisapnya terlalu kaku, lmending tidak usah melakukannya sama sekali.


Aku memasukkan penis Siwoo ke dalam mulutku dan mengisapnya dengan keras, mengingat pengalaman mengisap es krim.


Aku mengulumnya dengan lidahku dan sesekali mengisapnya dengan cepat.


Penasaran ingin tahu dengan ekspresi Siwoo, aku melirik ke atas untuk melihat reaksinya.


“Ugh, Arte... Ugh...!”


Oh, penisnya jadi terasa sedikit membesar. Aku bisa tahu karena aku mengulumnya di mulutku.


Dia pasti sangat terangsang oleh tindakanku yang mengisap penisnya seraya melihat reaksinya.


Aku tersenyum bahagia, tahu bahwa Siwoo menyukainya, meskipun aku sedikit kaku.


Aku terus mengulum penisnya, sembari mengukur reaksinya.


Tepat saat rahangku mulai sakit, Siwoo berbicara padaku.


“Ah, Arte... Aku pikir aku akan ejakulasi...! Berhenti, berhentilah Arte...!”


Pinggang Siwoo yang terlihat sedikit tegang, dan aku bisa melihat pahanya menegang.


Dia akan ejakulasi.


Aku cepat-cepat memasukkan lengan ke celah kecil antara pinggangnya dan lantai, yang sedikit terangkat saat dia menggerakkan pinggulnya.


“Ah, Arte?! Apa-apaan ini...! Huh?! Hei, kamu!”


“Ugh...!”


Segera, aku memeluk pinggang Siwoo begitu erat hingga aku merasa pinggangnya hampir patah, dan menggerakkan mulutku maju-mundur dengan paksa.


Penisnya begitu dalam di tenggorokanku hingga instingku menyuruhku untuk menariknya keluar sesegera mungkin.


Tidak mampu menahan ejakulasinya melawan ketatnya tenggorokanku yang rileks dan berkontraksi dengan kuat, Siwoo mulai menyemburkan cairan putih kentalnya ke dalam mulutku.


Setelah beberapa saat, aku menyadari bahwa aku tidak bisa melanjutkannya, jadi aku melepaskan cengkeramanku.


“Kwak, kwak… Mmph, hmmm!”


Air mata menggenang di pelupuk mataku.


Apakah itu karena oksigen yang nyaris tidak masuk ke tenggorokanku? Sejenak, aku sibuk menghirup oksigen seperti pelari di garis finis lari maraton.


“Ah, Arte... Apa kau baik-baik saja?!”


“Whoa, uhuk...”


Mulutku terasa licin.


Sebagian besar sperma Siwoo yang lengket menetes ke lantai atau perutku, tapi cukup banyak yang tersisa hingga memenuhi rongga mulutku.


Pemeran utama harem.


Begitu perkasanya dia.


“Ahnn...”


“Ah, Arte...?”


Aku membuka mulutku untuk memberi Siwoo pandangan yang jelas pada sperma yang memenuhi mulutku.


Ugh, lengket.


Aku agak ragu untuk menelannya, tapi...


Glek.


Aku menelannya, merasakan gumpalan lengket itu bergerak turun ke tenggorokanku.


“?!”


“Hah, hah... Bagaimana, Siwoo? Rasanya, enak...?”


Dengan setiap tarikan napas, aku bisa mencium aroma sperma Siwoo.


Rasanya seolah-olah tubuhku diselimuti olehnya.


“...Aku pikir kamu gak perlu ngasih tau... Tubuhmu sangat jujur.”


Dia pasti sangat terangsang karena aku menelan spermanya.


Meskipun baru saja ejakulasi, penis Siwoo sudah mengeras lagi.


Campuran keringat Siwoo, sperma, dan air liurku akan berfungsi sebagai pelumas seperti yang seharusnya.


Aku bertanya-tanya apakah boleh kumulai lagi dengan perlahan?


Melihat Siwoo terbaring di lantai, aku memasukkan schisandra yang ada di meja ke dalam mulutku.


Cairan itu tidak terasa seburuk yang kubayangkan, jadi aku pikir tidak apa-apa untuk tetap seperti ini, tapi...


Tapi aku... Aku benar-benar ingin menciumnya.


Aku tidak keberatan menciumnya seperti ini, tapi Siwoo tidak akan mau.


Dia tidak mau mencium mulut yang penuh dengan spermanya sendiri.


Aku sikat mulutku sampai bersih dengan schisandra dan raspberry hitam, aku naik ke atas Siwoo dan menciumnya.


Kutempelkan dadaku pada dadanya, agar dia bisa merasakan tubuhku sebaik mungkin.


“Mmm, Chuup...”


Aku bisa merasakan tatapan Siwoo di dadaku.


Apakah dia ingin melihat kulitku yang telanjang?


Karena Siwoo sepertinya ingin melihatnya, aku menggunakan kemampuanku untuk melepas bagian atas leotardku secara instan.


“Fuha... Aku pikir kamu impoten, tapi aku senang melihat kamu masih normal.”


“Kamu, kamu... Itu yang kamu pikirkan?”


“Pastinya aku tahu kamu nggak begitu, tapi aku sudah mencoba menggoda kamu berkali-kali, dan kamu tidak terpancing, jadi aku khawatir.”


“Aku hanya...!”


Aku melihat penis Siwoo yang telah kembali tegang setelah cairan pra-ejakulasi.


Ya, sepertinya dia sudah siap.


Aku menarik leotard di selangkanganku, lalu membuka vaginaku sedikit agar Siwoo bisa melihatnya.


“Lihat? Sekarang, penismu akan masuk ke sini.”


Tempat yang belum pernah dijamah oleh siapa pun, bahkan olehku sendiri.


Aku menunjukkan buktinya, lalu tidak membuang waktu untuk naik ke atas penisnya.


“Ha, ha, ha...”


“Arte... kamu baik-baik saja?”


“Gee, aku baik-baik saja...”


Dia perlahan menundukkan kepalanya dan melihat bagian bawah tubuhku, ke arah mulut bawahku.


Akhirnya aku memberikan keperawananku kepada Siwoo, kini, aku dan dia terhubung menjadi satu berdasarkan perasaan saling cinta,


Vaginaku, bercucuran darah, membasahi batang penisnya.


“Hoo, hoo... Cium aku, cium aku...”


Aku mencium Siwoo untuk menenggelamkan rasa sakit.


Berkat dia menutup matanya tanpa berkata apa-apa, kami berciuman dengan penis masih tertanam di dalam lubang senggamaku dan terdiam untuk beberapa saat.


“...Baik, sudah cukup.”


Ketika rasa sakit dari selaput dara yang pecah mereda, aku menghentikan ciuman dan menatap tubuhnya dari atas ke bawah.


Masih terasa sakit sedikit, tapi masih bisa ditahan daripada yang kubayangkan.


Mungkin darah dari robekan selaput dara telah melembabkan bagian dalam, membuatnya lebih mudah bergerak daripada saat pertama.


Menarik.


Apakah karena aku sangat kuat? Atau karena ini tubuh wanita?


Ajaibnya, benda sebesar itu menembus tubuhku, dan tidak terlalu sakit.


“Hari ini... Tolong manjakan aku, perlakukan aku sesukamu.”


Aku meletakkan tanganku di perut Siwoo.


Aku mengusap jari-jariku di atas otot perutnya yang kencang, merasa ada sesuatu yang aneh dari rasanya, dan tertawa kecil saat dia sedikit menggelinjang seolah digelitik.


Tapi itu pun hanya sebentar.


Aku mulai perlahan-lahan mengayunkan pinggulku di atas tubuh Siwoo.


“Mmmm, Arte... Arte...!”


“Ya, aku di sini… Kekasihmu ada di sini.”


Sekali lagi, suara daging beradu terdengar di ruang tamu.


Namun kali ini, suaranya sedikit berbeda.


Lengket, basah.


Suara yang akan membuat siapa pun malu jika mendengarnya.


Suara erangan khas seorang pria dan wanita yang saling bergesekan terdengar di ruang tamu dan menyebar ke seluruh rumah.


“Ha, ha, ha, ugh...”


Dalam kehidupan sebelumnya maupun saat ini, aku belum pernah berhubungan seks sebelumnya.


Oleh karena itu, aku khawatir Siwoo tidak bisa merasakannya dengan benar, tapi...


Entah bagaimana, aku merasa lebih percaya diri saat melihat tatapannya beralih ke dadaku, yang terus bergoyang saat ia berusaha menahan desahannya.


Merasa lebih nyaman, aku mencoba hal-hal berbeda daripada hanya menggerakkan tubuhku naik turun.


Aku memutar pinggulku sedikit atau menggoyangkan pinggulku dengan gerakan seperti mengulek sambal saat menciumnya.


Setiap kali aku bergerak, reaksi Siwoo berbeda, dan itu menarik.


Pacar hebatku, yang selalu bisa kandalkan dalam pertarungan, yang kadang-kadang kejam,


Tapi selalu memikirkanku.


Aku senang aku bisa melihatnya mengeluarkan ekspresi seperti itu dalam setiap gerakanku.


Aku menyukai bahwa kami terhubung menjadi satu.


Secara bertahap, intensitas dan kecepatan pinggulku mulai meningkat.


Setelah beberapa saat bergoyang pinggul, sambil melihat wajah Siwoo, dia berbicara padaku dengan mendesak.


“Arte, tolong berhentilah dan turun dariku!”


“Apa? Kenapa?”


“Kamu harusnya tahu kenapa!”


Ya, aku tahu. Aku tahu.


Penis Siwoo semakin membesar di dalamku, sedikit demi sedikit.


Dia pasti sudah ingin ejakulasi.


Aku yakin dia ingin aku menarik penisnya dari vaginaku, karena dia pikir aku mungkin akan hamil jika ejakulasi di dalam.


Tapi aku tidak mendengarkannya dan terus mengayunkan pinggulku, bergerak bahkan lebih cepat.


“Ahh, Arte, ini benar-benar berbahaya!”


“Tidak apa-apa, aku belum pernah menstruasi.”


“Apa, apa...?!”


Seperti yang aku katakan. Aku belum pernah menstruasi.


Aku tidak tahu kenapa. Mungkin Author membuatnya begitu.


Jadi, aku tidak perlu khawatir tentang kontrasepsi atau apapun.


Aku tidak berpikir apa yang Siwoo khawatirkan akan terjadi.


Aku memang ingin memiliki anak dari Siwoo, tapi...


Aku memutuskan untuk memikirkannya nanti.


Untuk saat ini, aku ingin menikmati momen ini.


“Dan kalau itu anak Siwoo... aku tidak masalah jika aku hamil?”


“Uggggh… Aku, aku mau keluar!”


Segera setelah aku mengatakannya.


Tidak bisa menahan diri lagi, sperma Siwoo mulai masuk ke rahimku.



 

Selasa, 20 Mei 2025

Chapter 145 - Malam Penuh Cinta (1)

 

"Bagaimana rasanya?"

"Enyak, enyak, tapi..."

Dari ekspresi Siwoo, aku bisa merasakan kalau dia punya banyak yang ingin dikatakan. Dia tahu, kan?

Yah, pastinya dia tahu.

"Um, bahan-bahannya... agak mencolok."

"T-Tolong jangan katakan itu..."

Daun bawang, tiram, abalon, belut, jahe, buah schisandra, dll. Sekilas, hidangan yang ada di meja ini tampak enak.

Belut panggang asin dengan rasa ringan, tidak tahu belut seperti apa yang Siwoo suka, dan belut panggang dengan campuran gochujang dan kecap yang pas. Lalu ada belut panggang gaya Jepang dengan saus teriyaki yang melimpah, rasanya manis sekali.

Jahe untuk mengurangi rasa lemak belut dan daun bawang untuk tekstur renyah. Abalon dan tiram panggang dengan mentega dan bawang putih.

Gurita yang direbus dengan sempurna sampai warnanya merah dan udang besar yang dipanggang dengan garam.

Buah schisandra dan raspberry hitam disiapkan sebagai pencuci mulut dan minuman.

Mungkin hidangannya tampak biasa mewah, tapi semuanya adalah makanan yang kabarnya baik untuk stamina keperkasaan. Dengan kata lain, ini seperti...

Sebelum menikah, mari kita makan banyak nutrisi, seperti ini.

"Arte."

"P-Pertama, mari makan dulu baru bicara..."

"Ah, oke."

Harusnya ini benar-benar enak. Hidangan yang penuh ketulusan pasti rasanya enak.

Bahkan, rasanya nggak masuk mulut atau hidung, pikiranku terus melayang ke tempat lain, jadi aku nggak bisa merasakan rasa makanannya.

Apa yang Siwoo katakan soal enak, pastinya bukan bohong. Hah, bagaimana aku bisa mencari alasan...?

Haruskah aku jujur bilang kalau bahan-bahannya disiapkan Amelia? Tidak. Alasan seperti itu kayaknya nggak ada gunanya.

Kalau aku bilang begitu, apakah Siwoo akan percaya? Memang dia punya kemampuan Intuisi, tapi itu bukan kondisi sempurna yang dimilikinya ketika Dorothy memperkuatnya.

Aku nggak tahu sejauh mana kemampuannya melemah, tapi... Bisakah dia tahu kalau aku jujur atau bohong?

"Se-Sebenarnya, bahan-bahan ini disiapkan oleh Amelia..."

"Ah, begitu..."

"Tolong makan banyak, ha, haha..."

"Uh, oke. Enak..."

Reaksi macam apa itu?!?! 'Ah begitu?' katanya? 'Ah begituuuu?!'

Itu jawaban yang ambigu, aku nggak tahu dia menganggap itu bohong atau menganggap itu benar.

Selain itu, kalau aku bilang makan banyak, itu bakal aneh.

Rasanya seperti aku bilang supaya dia makan banyak dan bangun stamina.

Kalau Siwoo berpikir seperti aku...

"..."

"..."

Suasana hening kembali jatuh di meja.

Hanya suara sendok garpu yang terdengar.

Sudah lama sekali rasanya makan begitu hening.

Siwoo dan aku selalu menikmati makan sambil ngobrol tentang berbagai hal.

Aku berharap kami bisa ngobrol soal kejadian hari ini di akhir kencan.

Aku nggak bisa menahan rasa canggung melihat suasana yang sangat berbeda dari yang kubayangkan.

...Tunggu, kencan?

"..."

"Arte?"

Aku baru sadar apa yang Amelia bilang buat aku pergi kencan.

Dia bilang kita harus ambil satu langkah perlahan.

Jadi kami pergi kencan di akuarium.

Dan lebih baik makan masakan rumah daripada makan di luar.

Itulah kenapa Amelia mengirimkan banyak bahan mahal ini.

"T-tidak mungkin..."

"...Arte?"

Kencan untuk meramaikan suasana.

Masakan rumah khusus untuk Siwoo.

Bahan-bahan yang kabarnya baik untuk kekuatan stamina...

Aku yakin.

Amelia, dasar jalang licik! Kau benar-benar membuatku terjebak.

Apakah ini maksudmu dengan langkah perlahan?

Pergi kencan, lalu lakukan 'itu' saat suasana mendukung?

Senyuman Amelia tiba-tiba terlintas di pikiranku.

"Arte, kau baik-baik saja?"

Hah, ya.

Begitulah jadinya.

Aku yakin aku pikir aku harus lakukan itu, tapi...

Aku nggak suka bagaimana semuanya berjalan, bagaimana Amelia berpikir seharusnya semuanya berjalan.

"Arte? Kenapa tiba-tiba jadi diam? Apa kau sakit...?!"

"...Shhh."

"Hah, ada apa denganmu tiba-tiba? Bukankah kita baru saja makan dan ngobrol? Masih banyak yang tersisa...?!"

Aku meraih wajah Siwoo, menariknya, dan menciumnya dengan kasar.

Aku nggak tahu berapa lama waktu berlalu sebelum aku melihat wajah Siwoo yang panik tercermin di mataku.

Saat aku menarik diri, kami terengah-engah, dan air liur kami masih menghubungkan bibir kami, membentuk jembatan tipis.

"...Aku sudah memutuskan."

"Apa, apa yang kau maksud...?"

"Aku ingin kau mengambil keperawananku." 

"Hah? Sekarang? Tiba-tiba?! Tunggu, tunggu, tunggu, kita lagi makan!"

"Ngapain juga, nggak ada yang cukup buat kita habisin, jadi nanti kita panasin sisanya."

Aku nggak suka ini.

Amelia jelas-jelas mau makan semua makanan dan bersenang-senang saat suasana cocok.

Itu nggak bisa diterima.

Walaupun dia teman.

Walaupun dia mencoba bantu aku, aku nggak akan biarkan dia mengaturku begitu.

Siwoo adalah milikku.

Pengalaman pertamaku dengan Siwoo harus antara aku dan dia.

Nggak boleh ada orang lain yang terlibat.

Jadi, nggak bisa dihindari.

Aku nggak suka Amelia cuma melakukan apa yang dia mau.

...Dan masalahnya adalah Siwoo benar-benar nggak bisa menahan rayuanku.

Iya, Siwoo orang jahat.

Dia nggak merespon godaan pacar secantik ini.

Aku tahu si Author bilang dia nggak impotent...

Jadi ini konfirmasi.

Aku cuma memeriksa apakah ada masalah dengan fungsi seksual Siwoo atau tidak.

Aku harus memaksa diri untuk memeriksanya.

"Sekarang, tenang dulu. Bicarakan pelan-pelan..."

"Aku sudah tenang."

Siwoo pasti merasakan ada yang aneh karena dia berdiri dan mencoba meninggalkan ruangan.

Tidak bisa.

Jelas, Siwoo sangat pandai menghindar, tapi...

Dengan jarak sedekat ini, di rumah yang nggak ada ruang untuk bergerak, ceritanya beda.

Aku menggunakan begitu banyak benang sehingga dalam sekejap, semua yang aku pakai kecuali bodysuitku berubah jadi benang dan tersebar ke mana-mana.

Tentu saja, Siwoo nggak bisa menghindar semuanya dan segera jatuh di depanku, tangan dan kakinya terikat.

"Tung-, tenang. Arte. Aku nggak tahu kenapa kau tiba-tiba seperti ini, tapi..."

"Ini salah Siwoo."

"...Aku?"

"Iya. Ini salah Siwoo."

Siwoo berjuang keras, tapi nggak ada yang bisa dia lakukan karena benangnya sudah terikat erat.

Aku meraih celananya dan berkata.

"Aku godain kamu tiap hari, dan kamu selalu menghindar... Kamu bikin aku gelisah."

Saat aku dengan hati-hati melepas celana dan celana dalam Siwoo, aku melirik ke bawah ke arah tubuhnya yang bawah, dan penisnya sedikit mengeras.

Ya, Siwoo memang seorang pria.

Dia terangsang oleh pikiran tentang apa yang akan dia lakukan dengan pacarnya yang cantik.

Terpesona oleh penampilannya yang acak-acakan, yang belum pernah aku lihat sebelumnya, aku melepas semua pakaian yang menutupi penisnya dan…

Aku terkejut melihat pemandangan di hadapanku.

“Huh?”

Penis seorang pria, apakah sebesar itu?

Saat aku menatap penis Siwoo, aku tiba-tiba teringat tubuh priaku sebelum aku datang ke dunia ini.

...Terlihat jauh lebih besar dari milikku sebelumnya.

(TN: sat, bangsat, ngakak gw.)

Apakah ini benar-benar bisa masuk ke dalam mulut bawahku?

Tanpa berpikir, aku menggesekkan tanganku sepanjang penis Siwoo yang menjulang tinggi dan menempelkannya di perut bawahku.

Itu cukup panjang untuk mencapai pusarku.

Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, itu sangat besar.

“...”

Aku menelan ludah.

Aku menelan ludah dengan gugup, karena sesuatu yang jauh lebih besar dari yang aku bayangkan.

Sekarang aku ingat, Siwoo adalah protagonis cerita harem.

Aku lupa bahwa sebagai protagonis harem, penisnya memang seharusnya berukuran besar.

Apakah benar-benar mungkin memasukkan benda ini?

Aku bertanya-tanya apakah keraguanku tersampaikan kepada Siwoo.

Siwoo membuka mulutnya mencoba meyakinkanku.

“Arte, jangan memaksakan, jangan...”

“Aku ngga memaksakan diri!”

...Ugh.

Itulah yang aku katakan, tapi apakah ini sungguh bisa masuk?

Itu lebih besar dari yang aku bayangkan, dan aku ragu bisa masuk ke dalam vaginaku.

“Aku bisa melakukannya, aku bisa melakukannya.”

Bisakah aku? Benarkah?

Kalau dipikir-pikir, aku pernah dengar kalau memasukkannya tanpa membuat vagina basah bisa sakit.

Aku menyelipkan jari-jariku ke area selangkanganku yang terbalut leotard.

“Mmmm.”

Aku menarik jariku sepanjang benda asing yang terasa jauh lebih besar dari yang kubayangkan.

...Apakah karena aku belum pernah masturbasi dengan tubuh ini sebelumnya?

Bahkan dengan satu jari saja, rasanya luar biasa.

Aku penasaran apa yang akan terjadi jika benda sebesar ini masuk.

Aku takut, tapi tidak ada cara untuk berhenti sekarang.

Aku harus melakukannya suatu saat nanti.

Tidak ada gunanya lari sekarang.

Tanganku menggenggam penis Siwoo yang kaku.

Pelan-pelan, tahu betul bahwa akan terasa sakit jika aku memegangnya terlalu keras.

Mungkin akan sedikit lebih nyaman jika aku membasahinya dengan air liurku.

“Arte…”

“Aku dengar itu sakit kalau langsung dimasukkan, jadi... Sekali saja, aku akan memberi service untukmu...”

Aku mengucapkan kata “service” dengan bibirku untuk melihat apakah Siwoo menyukainya.

Penis Siwoo berkedut dengan keras.

…Sepertinya aku menemukan salah satu kesukaannya. Tapi aku akan segera belajar seleranya.




Rabu, 07 Mei 2025

Finne sang Putri Budak, Mengapa Dia Menjual Negaranya Sendiri?

 


Info:

Original Title: エルフの奴隷御子フィーネ~なぜ彼女は自国を売国したのか?~
Developer: Fairy Flower DLsite - Ci-en - Steam
Publisher: OTAKU Plan - Steam - Website
Censored: No
Version: Steam + R18
OS: Windows, Android (Joiplay, Maldives, GameHub)
Language: Indonesia

Sinopsis:

Perang Para Paragon.
Perang untuk kekuasaan dunia yang dipimpin oleh “paragon”, wakil-wakil ras mereka.
Dahulu, paragon manusia lah yang memenangkan perang, menakdirkan ras elf ke dalam perbudakan.

Seribu tahun telah berlalu.
Perang Para Paragon lainnya akan segera dimulai.

Finne, protagonis kisah ini, terpilih untuk mewakili umat manusia.
Namun, darahnya menyimpan rahasia. Dia hanya setengah manusia――dan setengah elf.

Akankah dia mengkhianati tanah airnya untuk menyelamatkan ambisinya sendiri?



Screenshot:




Link Download (1,6 GB):

Google Drive
PixelDrain