Malam ketika Ethan mendaratkan pukulan telak pada
ayahnya untuk pertama kalinya selama latihan duel mereka…
Tuan Muda Blackwood merasakan momen paling bahagia
yang pernah dirasakannya dalam hidupnya.
Bukan situasi dimana ia bisa menyentuh dada pelayan
eksklusifnya, Lilith, yang membuatnya bergairah.
Tentu saja pada awalnya tidak dapat disangkal bahwa
dia telah berusaha menyentuh dada gadis itu juga.
Namun, Ethan merasakan sensasi berdebar-debar di
hatinya karena alasan yang berbeda.
“…Jangan bicara omong kosong, Tuan Muda Ethan.”
“……”
Setelah Ethan mengatakan tidak akan menyentuh dadanya,
Lilith datang ke arahnya dengan marah.
Ethan tidak dapat menenangkan emosinya yang bergejolak
menghadapi perilaku pelayannya, yang bisa membuat siapa pun berpikiran aneh.
Ketika gilirannya tiba untuk menyentuh dadanya, Lilith
bahkan dengan provokatif bertanya apakah lebih enak melakukannya di tempat
tidur, seolah menggodanya.
Tetapi saat Ethan tidak menunjukkan niat untuk
menyentuhnya, dia justru marah dan mengumpatnya.
Dari semua tindakannya, sikap Lilith membuatnya salah
paham.
'Apakah Lilith juga menyukaiku…?'
Ada banyak alasan bagi Ethan untuk berpikir seperti
itu.
Ketika dia mengatakan dia ingin menjadi pelayan
eksklusifnya tanpa peduli dengan statusnya setelah menjadi wanita bangsawan…
Atau ketika dia manawarkan dadanya padanya setelah dia
salah mengira Isabel akan menggantikannya sebagai pelayan eksklusifnya…
Dan bahkan ketika dia menyarankan kepadanya bahwa akan
lebih baik menggunakan dua pedang sekaligus, dan menggunakan saran itu untuk memenangkan
duel melawan ayahnya…
Mengetahui semua tindakannya itu, meskipun sulit
membayangkan itu adalah hal-hal yang bisa dilakukannya tanpa perasaan apa pun
terhadapnya, Ethan selangkah lebih maju dalam menghentikan pergerakan Lilith.
<Pria terburuk di dunia.>
Dia teringat percakapan mereka di ruangan ini dua
tahun lalu, saat dia bertanya pada Lilith tentang tipe pria yang disukainya dan
mengetahui bahwa tipe orang yang paling dibenci Lilith adalah dia.
Tentu saja, dua tahun telah berlalu sejak hari itu,
dan sulit dibayangkan dia akan mendapatkan jawaban yang sama sebagai
balasannya. Namun, apakah dia ingin mengonfirmasi kebenaran yang tidak
mengenakkan itu sebagai seorang pria yang baru saja melewati masa pubertas
adalah dilema yang kejam.
“Apakah kau masih berpura-pura menjadi seorang pria
sejati, Tuan Muda?”
“Ah, tidak… tidak, Pelayan…”
“Kalau begitu, tolong letakkan tanganmu di dadaku daripada
menunjukkan simpati setengah hatimu. Bukankah itu yang selama ini kau inginkan?”
“Uh, oke…”
…Memang, bagaimana jika perasaan Lilith sama dengan
perasaannya, atau bagaimana jika malah berbeda dari pikirannya?
Bagaimanapun juga, yang seharusnya dipikirkannya
sekarang adalah menyentuh dada pelayan eksklusif di hadapannya.
Tanpa menyadarinya, dia membersihkan meja yang
diletakkan di antara mereka dan mendekati Lilith, duduk berhadapan dengannya.
Dengan berani dia mengulurkan tangannya dan meremas
payudaranya yang besar.
Remas!
“Ahhhnn..!!”
Begitu telapak tangannya menyentuh dadanya, dia
mendengar desahan cabul Lilith di telinganya.
Jantungnya makin berdebar mendengar suaran gadis itu
yang provokatif seakan menggugah naluri seorang lelaki.
Dia mulai fokus merasakan sensasi dada pelayan
eksklusifnya di tangannya.
Remas. Remas.
“Ahhh, haaaa…!”
Remas. Remas.
“Ahhhn, nngh, haaaa…!”
Sekalipun dia memijatnya dengan kedua tangan, payudara
besar itu tidak dapat digenggam sepenuhnya.
Selama waktu itu, perhatian Ethan sedikit tertarik ke sesuatu
yang keras yang dirasakannya di bawah telapak tangannya.
Dia dapat dengan mudah menebak bahwa itu adalah puting
Lilith yang ereksi karena terangsang.
'Jika aku memintanya untuk menunjukkannya,
apakah dia akan marah…?'
Apa warna puting Lilith di balik pakaiannya?
Tidak seperti seragam pelayan, yang hanya
memperlihatkan sekitar sepertiga payudaranya. Kira-kira puting macam apa yang disembunyikan
di dalamnya?
Hasrat yang meningkat dan khayalan yang membara dari
seorang lelaki mulai muncul ke permukaan, dan mengusik pikiran polos Tuan Muda
Blackwood.
Akhirnya, sambil bersiap menghadapi hal terburuk, dia
dengan hati-hati bertanya pada Lilith.
"Pelayan…"
“Apa… itu… haa… Tuan Muda Ethan…?”
“Jika aku menurunkan sedikit seragam pelayanmu dan
menyentuhnya, apakah itu tidak apa-apa?”
“……”
“T-Tidak apa-apa… hhaahhh... Itu bukan masalah besar…”
Suara berikutnya yang datang dari ruangan sunyi itu
adalah suara pakaian dan kain yang bergesekan satu sama lain.
Gemerisik. Gemerisik.
“……”
“……”
Tanpa berkata apa-apa, Lilith mulai menurunkan tali
bahunya sendiri, penuh ketegangan.
Dalam suasana tegang itu, Ethan diam-diam
memperhatikannya, mengamati tindakannya.
Saat tali yang menyangga seragamnya sedikit melorot,
gaun pelayan yang dikenakannya juga ikut melorot sedikit, memperlihatkan
payudara Lilith yang besar dan indah.
“…Woah!!”
Ethan tidak dapat menahan diri untuk berseru kagum
saat melihat tubuh indah pelayannya di depannya.
Bukan hanya payudara indah Lilith yang terekspos
sepenuhnya, tetapi putingnya yang keras dan berwarna merah jambu di bagian
tengahnya juga terlihat jelas.
Ethan menatap langsung ke tubuh indah di hadapannya,
saat Lilith, yang diam-diam memperhatikannya, menyampaikan pesan singkat kepada
tuannya.
“Kamu tidak perlu meminta izin padaku… dan kamu tidak
perlu khawatir dengan perasaanku….”
“…”
“Inilah yang kujanjikan… Dan kau layak mendapatkan
hadiahnya….”
“…”
“Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain, untuk
satu menit ke depan, hak untuk menggunakan dadaku sesukamu adalah milikmu….”
Dengan payudaranya yang besar dan putingnya yang keras
terekspos, Lilith tersipu saat berbicara, kata-katanya penuh dengan kecabulan
dan sensual.
Kewarasan Ethan goyah sekali lagi mendengar kata-kata
provokatif dari pelayan eksklusif itu, dan tangannya dengan sendirinya meraba
payudara Lilith yang terekspos tanpa perlawanan.
“Ahhhhnnnn…!”
Saat penghalang kain tebal itu menghilang, payudara
lembut Lilith terasa lebih nyata. Kehangatan payudara gadis itu menjalar di
bawah telapak tangannya. Teksturnya yang kenyal membuat Ethan juga terangsang.
Pemandangan yang ada di depannya, pastilah akan menjadi memori yang akan terus
terpatri pada lemari kenangan milik Tuan Muda Blackwood.
Dua puting susu di bagian tengah masing-masing
payudara sangat menarik bagi Ethan, yang baru pertama kalinya merasakan dada
wanita.
Tangannya yang tadinya membelai keseluruhan payudara,
kini terfokus pada putingnya.
Cubit.
“Uhh?! Aaaahhhhhnnn...!”
Remas. Remas.
“Ahhhn, mmm, ahhhn…!”
Menjepit salah satu puting susu yang tampak malu-malu
dengan dua jari, memutarnya ke kiri dan ke kanan, menjentikkannya dengan
jari-jari karena penasaran.
Menekan puting susu yang menonjol itu ke dalam dengan
jari-jarinya, menariknya kuat-kuat ke arah yang berlawanan.
Sentuhan tangan Blackwood menjelajahi misteri dari sosok
wanita di hadapannya.
Erangan Lilith yang terputus-putus memenuhi kamar
Ethan saat ia terus menjelajahi payudaranya.
Remas. Remas.
Cubit.
“Ah, ah, ah…!”
Saat tangan Ethan menjelajahi dada dan puting Lilith, pelayan
itu, yang belum pernah membiarkan seorang pria menyentuh putingnya sebelumnya,
tidak dapat menahan kenikmatan duniawi yang menenggelamkan kewarasannya.
Erangan tajam yang panjang bergema di seluruh ruangan
sebagai bukti ketidakmampuannya untuk menahan orgasme lebih lama lagi.
“Ugh, AAAAAAHHHHHHHHHHHHHHH…!!”
Ethan, yang terkejut mendengar erangan yang begitu
menggoda dan panjang itu, tanpa sadar mengencangkan cengkeramannya di dada
wanita itu.
Remas!
“AHHHHHH…!!”
Atas rangsangan itu, Lilith mencondongkan tubuh ke
depan, kehilangan keseimbangan karena kenikmatan yang mengalir mengisi
tubuhnya.
Sambil memegang bahu Ethan, dia jatuh terkapar,
meninggalkan Ethan dalam perasaan campur aduk antara bingung dan khawatir.
Gedebuk.
“Ah, ah, ah….”
"Li-Lilith…?"
“Haaa, ahhh, ughhhh, ahhh….”
“A-Apa kau baik-baik saja?! Apa kau kesakitan…?”
Tidak dapat menjawab pertanyaan Ethan, Lilith hanya
terengah-engah, berjuang keras untuk mengeluarkan suara.
Butuh waktu hingga belasan detik sampai napasnya yang
terengah-engah menjadi tenang, dan Lilith akhirnya bertemu pandang dengan Ethan
dan berbicara.
"Tuan Muda…."
“Li-Lilith….”
“…Sudah berakhir… Sudah semenit….”
"…Apa?"
Mendengar kata-kata Lilith yang membawanya kembali ke
dunia nyata, Ethan segera melepaskan tangannya dari dada Lilith.
“M-Maaf, Lilith…! Aku tidak menyadari waktu berlalu
begitu cepat….”
“Tidak apa-apa, Tuan Muda… Aku hanya tidak bisa
mengendalikan diri…”
Sambil mengucapkan kata-kata itu, Lilith merapikan
pakaiannya yang acak-acakan dan tersandung saat ia bangkit dari tempat
duduknya.
Melihatnya bertingkah seperti itu, Ethan bertanya
dengan hati-hati.
“Perlukah aku mengantarmu ke kamarmu, Pelayan?”
“Tidak perlu, Tuan Muda… Itu tidak… perlu…”
“Tapi kamu tampaknya kehilangan keseimbangan…”
“Lagipula, Tuan Muda… kurasa kau tidak akan bisa
bangun sekarang, kan?”
“…”
Mendengar kata-kata Lilith yang penuh arti, Ethan
tersipu malu dan tidak punya pilihan selain duduk kembali, pantatnya yang
setengah terangkat kembali ke kursi.
Masih dengan tali bahunya yang setengah melorot, pelayan
eksklusif yang tampak provokatif itu mengucapkan selamat malam kepada Ethan
sebelum meninggalkan kamar.
“Selamat tidur, Tuan Muda.”
“Kamu juga, Pelayan…”
Kreeeeettttt.
Gedebuk.
“…”
Itu adalah momen yang begitu menggairahkan, hingga ia
hampir merasa seperti berubah menjadi seekor binatang buas.
Hari itu, waktu tidur Ethan Richard Blackwood tertunda
sekitar 30 menit dari biasanya.
Pelayan eksklusifnya, Lilith Blackwood Rosewood, bersandar
di pintu dan bergumam sendiri pelan.
“Ah, sial… kenapa bajingan itu begitu ahli menyentuhku…”
Lilith Blackwood Rosewood.
Itulah momen ketika dia merasakan orgasme pertamanya di
dalam tubuh wanita.
